Serba serbi noviez

Hidup adalah Perjuangan

Ada Rumah Makan Padang di Bulan Desember 8, 2009

Filed under: Wara-Wiri — noviez @ 6:08 pm

(sumber kompas, minggu, 25 mei 2003)

RENDANG, sambal balado, gulai kepala ikan kakap merah, gulai gajeboh, dendeng batotok. Wuah! Itulah menu rumah makan padang yang bisa dijumpai di mana saja di negeri ini. Warung padang, penyaji masakan khas Minangkabau itu telah menjadi salah satu karakter Indonesia lewat rasa.
Waktu Neil Armstrong mendarat di Bulan, dia melihat ada rumah makan padang! seloroh Rahimi Sutan, pemilik rumah makan minang Natrabu di Jakarta. Dia menggambarkan luasnya persebaran warung padang.
Natrabu hanya salah satu rumah makan padang yang sukses bertahan hingga lebih dari empat puluh tahun. Begitulah dari Padang sampai Merauke berjajar warung padang. Dari jalanan panas yang dilewati bus malam atau truk gandeng di Sumatera dan Jawa, hingga ke pusat perbelanjaan sejuk dan wangi di Ibu Kota, restoran padang menawarkan rasa yang mengundang. Di Jalan Haji Agus Salim, rumah makan padang Sederhana berdiri tak jauh dari resto lain, termasuk Sizzler, American Grill itu.
Sekadar gambaran, di Bali saja ada sekitar 100 warung padang. Tentu mereka tidak hanya melayani sekitar 6.000 orang asal Minang yang telah menjadi penduduk Bali. Data lain dari Ikatan Warung Padang Indonesia (Iwapin) mencatat, di wilayah Jakarta dan sekitarnya ada sekitar 20.000 warung padang. Cobalah melintas di Jalan Juanda atau Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat, dan Anda dengan gampang menjumpai warung padang. Pada ruas jalan yang panjangnya kurang dari lima kilometer itu berdiri lebih dari lima restoran padang.
Mereka menawarkan jenis masakan seperti rendang, sambal balado, gulai kepala ikan kakap merah, dan sejenisnya. Jangan lupa pula sambal dari cabai hijau yang menggairahkan itu. Soal rasa itulah yang boleh jadi membuat warung padang terus berkembang di tengah beragam jajanan impor dan lokal yang berjajar di mal-mal itu.
Demi rasa itu pula, konon banyak warung padang yang masih meng-impor bahan dari ranah Minang. Restoran Sari Ratu yang membuka usaha di 12 pusat perbelanjaan di Jakarta itu misalnya, mendatangkan telor bebek dari Sumatera Barat. Menurut Direktur Sari Ratu, telor itu dihasilkan oleh bebek yang digembalakan dan memakan pakan alami. Para bebek tersebut dipercaya menghasilkan rasa telor yang lebih enak dibanding bebek yang mengonsumsi pakan buatan pabrik.
Demikian pula bahan baku kelapa yang juga didatangkan dari Sumatera Barat seperti Pariaman, yang katanya berpengaruh pada rasa dan warna santan.
“Jika digulai rasa lebih enak dan warna di piring nantinya menjadi lebih manis. Kita bermain di rasa karena ini memang bisnis rasa, kata Rama yang di dapur pusat Sari Ratu, di bilangan Blok A, Jakarta Selatan, di tengah aroma rendang yang sedang dimasak, yang membuat “cegluk.
Rumah makan Citra Bundo di Semarang juga mempertahankan otentisitas rasa padang dengan mendatangkan racikan bumbu kering dari Kota Padang. “Namun untuk bahan baku daging atau sayur, kami cukup mendatangkan dari Pasar Johar Semarang, kata Robby, pengelola rumah makan Citra Bundo sambil melayani pembayaran para tamunya.
Sementara, pengelola warung padang juga mempertahankan keaslian rasa masakan Minang dengan menggunakan koki dari Sumatera Barat. Atau setidaknya mereka meminta bantuan “lidah orisinal untuk mengontrol kualitas masakan. Dan ternyata, di antara mereka ada yang meminta jasa para ibu yang memang terlatih soal icip-icip rasa. Rahimi Sutan (75), lelaki asal Payakumbuh, yang mendirikan restoran padang Natrabu pada 1960 misalnya, mengajak ibu kandungnya sebagai pengontrol rasa di masa awal beroporesinya Natrabu. Begitu juga Sari Ratu dibantu Hajjah Rosmaiyar (59) yang kelahiran Batusangkar, sebagai pengontrol keaslian rasa.
“Ibu hobi masak dan bisa membuat masakan minang. Orang Minang itu wanitanya mengerti dapur, hingga turun temurun mereka pandai memasak. Jadi, lidah mereka tidak bisa ditipu, kata Rama tentang sang ibu yang ikut mengawasi kualitas rasa.
Masih soal rasa, beberapa pengelola restoran perlu mempertimbangkan tabiat lidah konsumen orang-orang di luar komunitas Minang. Sari Ratu dan Natrabu misalnya, hanya mentoleransi tingkat kepedasan alias kadar cabai dalam sambal.
“Di Jakarta kan tidak semuanya orang Minang. Maka rasa disesuaikan, yaitu dengan mengurangi pedas. Sekarang lidah orang asing sudah mau rasa Minang kok,kata Rahimi Sutan yang bercita-cita membuka cabang di Amerika.
Di luar urusan pedas yang relatif itu, pengelola warung padang tetap menjaga keaslian rasa dan tidak berkompromi dengan rasa lokal. Misalnya selera rasa “wong Jawa Tengah yang konon cenderung menyukai yang manis-manis.
“Tidak seperti rumah makan padang lainnya di Jawa Tengah, Citra Bundo tetap mempertahankan kekhasan rasa Padang. Kami tidak mau mengubah masakan kami menjadi lebih manis, kata Robby dari Citra Bundo yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Semarang.
Untuk menjaga keaslian rasa, di antara pemilik warung padang saling bertukar resep. Hal ini dilakukan para pengelola warung padang di Bali yang tergabung dalam Asosiasi Rumah Makan Minang (Armina). Rasa memang tidak akan menjadi seragam karena mereka tetap mempunyai ciri khas masing-masing sesuai asal pemilik warung.
“Ciri khas masakan daerah Solok itu misalnya, rendang lebih hitam, sedang rendang dari Bukittinggi itu biasanya lebih cokelat. Gulai kepala ikan biasanya lebih banyak berasal dari Padangpariaman, kata Yasril Kelana, pria asal Desa Sulit Air, Solok, yang membuka rumah makan minang di Denpasar, Bali, sejak 28 tahun silam.
Konsumen dengan lidah terlatih memang dapat mendeteksi rasa yang dianggap melenceng dari pakem rasa asli masakan minang. Elly Kasim (59), penyanyi asal ranah Minang era 1960-an itu, misalnya, menjumpai rasa minang yang telah berubah pada beberapa warung padang di Jakarta.
“Masakan minang itu tak dapat dilepaskan dari santan dan cabe. Di Jakarta ada yang disederhanakan, ada yang dinasionalkan dan tidak seperti di Padang. Pedasnya dikurangi, gulai kepala ikan santannya sudah diencerkan, kata Elly Kasim yang dikenal dengan lagu Bareh Solok.
PEDAS atau agak pedas, kental atau setengah kental, yang jelas rumah makan padang terus ramai dikunjungi orang. Warung padang menjadi lahan bisnis yang menurut pengalaman pengelolanya terbukti tak tergoyahkan oleh krisis ekonomi manapun. Rahimi Sutan, yang juga menjalankan bisnis biro perjalanan Natrabu itu, mengakui, bisnis rumah makannya tidak goyah oleh situasi ekonomi.
“Bagaimana pun keadaan dunia, orang tetap mau makan. Kalau makanan tidak habis terjual, kan masih bisa dimakan keluarga, kata Rahimi.
Daya tahan rumah makan padang tentu bukan sekadar karena menjual makanan yang dibutuhkan orang, tetapi juga pada urusan manajemen. Sarwono Yudo Husodo, bekas menteri yang kini “jualan nasi padang lewat empat restoran Sederhana itu, melihat demokratisnya pengelolaan rumah tangga warung padang.
“Yang menarik dari manajemen restoran padang adalah para karyawan digaji tidak berdasar jam kerja, tapi berdasar apa yang telah mereka hasilkan, kata Siswono yang membuka restoran padang Sederhana di Niaga Tower dan BII Plaza, keduanya di Jalan Sudirman, Jakarta.
Kebanyakan pemilik rumah makan padang memang menerapkan manajemen serupa. Siswono menjelaskan manajemen warung padang yang prinsipnya adalah pemerataan. Hasil penjualan dipotong biaya produksi. Hasilnya kemudian dibagi dua bagian berdasarkan kesepakatan. “Uang bagian karyawan itu lalu dibagi berdasarkan indeks prestasi yang dimiliki masing-masing karyawan.
Cara seperti ini, kata Siswono, akan mendorong karyawan untuk berprestasi. Mereka akan berusaha melayani tamu sebaik-baiknya agar tamu mau datang kembali. Sistem pembagian gaya fifty-fifty serupa itu juga diterapkan Sari Ratu dan Natrabu. Cara itu menjadikan karyawan merasa ikut memiliki perusahaan.
“Kalau ada satu piring yang pecah, maka itu akan menjadi beban kami semua. Jadi, para karyawan saling mengingatkan dan budaya kontrol pada diri sendiri itu makin kuat, kata Rama dari Sari Ratu.
Cara semacam itu diakui Rahimi Sutan sebagai salah satu kunci sukses Natrabu. Rahimi memperlakukan awak rumah makan sebagai kawan kerja, partner, dan bukannya pegawai.
“Kalau keuntungan banyak, semua juga dapat banyak. Ibaratnya, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Itu yang membuat rumah makan tidak guncang oleh krisis, kata Rahimi.
Natrabu secara berkala juga mengajak para awak restoran untuk berdiskusi membicarakan masalah pekerjaan. Mereka boleh menyampaikan keluhan atau kritik terhadap hasil atau cara kerja. Jika seseorang karyawan diberhentikan, kata Rahimi, maka itu merupakan kesepakatan bersama seluruh karyawan.
“Jauh sebelum orang ramai-ramai teriak reformasi, kami rumah makan minang sudah demokratis. Jadi, kalau mau belajar demokrasi, pelajari saja manajemen restoran minang, seloroh Rahimi.
Tanpa jargon-jargon yang muluk-muluk, bisnis warung padang diam-diam juga menggerakkan ekonomi rakyat. Di situ terlibat banyak pihak, mulai peternak bebek, petani sayur, sampai para pemasok kebutuhan yang berkaitan dengan bisnis rumah makan. Sari Ratu misalnya, bekerja sama dengan sekitar 100 pemasok kebutuhan.
Sekadar gambaran, Sari Ratu setiap bulannya mengolah sekitar dua ton daging sapi, 25.000 ekor ayam, 20.000 butir telor bebek, dan 10 ton beras. Jumlah bahan itu digunakan untuk memasok 12 cabang Sari Ratu di Jakarta. Untuk telor, mereka mendapat pasokan dari petani bebek di Sumatera Barat. Sari Ratu juga melibatkan sekitar 250 orang tenaga kerja mulai dari tenaga cuci piring sampai staf administrasi.
Banyak karyawan rumah makan padang harus melewati proses “pengkaderan lengkap khas rumah makan. Ace Iskandar, yang kini menjadi manajer operasional Natrabu, memulai kariernya sebagai tukang cuci piring. Setahun kemudian dia menjadi penyiap sari buah, lalu beralih ke bagian pelayanan tamu, dan staf administrasi, sampai kemudian menjadi manajer.
Warung padang juga menjadi penampungan tenaga kerja ketika di beberapa wilayah negeri ini dilanda konflik. Yasril Kelana, pemilik rumah makan padang di Bali, menceritakan bagaimana perantau Minang di daerah konflik itu kehilangan pekerjaan. “Mereka mengungsi di Bali dan membuka rumah makan. Kami sangat bersyukur daripada mereka jadi penganggur, mereka bisa berusaha, kata Yasril, yang sebelumnya pernah berdagang pakaian di Jakarta.
Begitulah rendang dan masakan minang lainnya diolah dan dijual orang-orang yang tangguh menghidupi diri dan banyak orang lain. Selain itu, mereka juga menghidupkan selera banyak orang yang sering berucap tambo ciek! ketika selera mereka terpuaskan di meja makan. Tambo ciek!

 

Reunian April 27, 2008

Filed under: My Diary,Uncategorized — noviez @ 1:43 pm

senangnya hari ini ga disangka2 aku bisa ketemu beberapa teman lama semasa smp dan sma. akhirnya kita jalan2 nyamperin temen yg laen juga. duh seneng banget…..

awalnya karena aku anter awan ke bandara ketemu naldi.

awen,peix,naldi,risa,mega dan koko.

 

Brownies Ketan Hitam April 7, 2008

Filed under: Uncategorized — noviez @ 2:31 pm

Brownies Ketan Hitam

Bahan I :
6 kuning telur
250 gram gula pasir
10 gram cake emulsifier (misal Tbm, Sp, Ovalet)
1/2 sdt garam
1/2 sdt vanili bubuk

Bahan II (campur dan ayak) :
175 gram tepung ketan hitam
100 gram tepung terigu protein sedang
1 sdt baking powder

Bahan III (cairkan) :
100 gram mentega
75 gram margarin
2 sdm susu kental manis

Cara Membuat :
1. Campur dan kocok bahan I menjadi satu hingga mengembang dan kental.
2. Masukkan bahan II sedikit demi sedikit hingga rata. Tuangkan bahan III, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur rata.
3. Tuang ke dalam loyang tulban diameter 28 cm X T 7 cm yang telah diolesi dengan sedikit minyak.
4. Kukus kedalam panci pengukus dengan api sedang selama 45 menut hingga matang.
5. Angkat dan dinginkan.

 

Chocolate Brownies April 7, 2008

Filed under: Aneka Resep Masakan Dan Kue-kue — noviez @ 2:23 pm

Bahan I :
6 kuning telur
5 putih telur
160 gram gula pasir
7 gram cake emulsifier (misal Tbm, Sp, Ovalet)
¼ sdt garam
¼ sdt vanili bubuk

Bahan II (campur dan ayak) :
110 gram tepung terigu protein sedang
20 gram cokelat bubuk
½ sdt baking powder

Bahan III (cairkan) :
75 gram mentega
75 gram margarin
125 gram dark cooking chocolate

Bahan IV :
40 gram kismis
40 gram cokelat chip

Cara Membuat :
1. Campur dan kocok bahan I menjadi satu hingga mengembang dan kental.
2. Masukkan bahan II sedikit demi sedikit hingga rata. Tuangkan bahan III, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur rata.
3. Tuang ke dalam 2 loyang ukuran 30 x 10 x T4 cm yang telah diolesi dengan sedikit minyak dan dialasi dengan kertas roti. Taburi dengan bahan IV.
4. Kukus kedalam panci pengukus dengan api sedang selama 25 menut hingga matang.
5. Angkat dan dinginkan. Semprotkan dengan white cooking chocolate cair atau poles dengan butter cream dan taburi dengan cokelat serut atau sesuai selera.

 

Rumah Makan Padang “ Bundo” ( Cito Raso nan Manggoyang Lidah ) April 7, 2008

Filed under: Uncategorized — noviez @ 1:25 pm

Makanan Padang termasuk makanan populer. Makanan ini bisa dijumpai di hampir seluruh Indonesia, bahkan hingga ke pelosok. Penggemarnya mencakup multietnis dan bangsa. Ini tak terbantahkan.

Khusus buat warga Jakarta yang menggemari masakan Padang, kini rumah makan dengan cita rasa masakan Padang ini bertambah satu lagi. terletak di daerah Jakarta Utara Jl. Plumpang Semper No. 63. Tidak jauh berbeda dengan masakan Padang lainnya, Rumah Makan Padang Bundo juga menyediakan berbagai menu masakan. Mulai dari rendang, ayam goreng/gulai/bakar, gulai cancang, gulai hijau ikan……., pangek ikan, ikan bakar, gulai cubadak, sambal lado hijau, dll.

Dengan harga yang relatif tak jauh berbeda dari rumah makan Padang umumnya, Rumah Makan Padang Bundo tampaknya menjadi alternatif bagi penikmat masakan Padang. Anda hanya perlu merogoh dan mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000 untuk membawa pulang jenis masakan tertentu seperti ayam goreng, dan ayam gulai ditambah sebungkus nasi putih.
”Harganya bervariasi ada yang enam ribu rupiah dan ada pula delapan ribu rupiah. Tapi ada juga yang sedikit mahal, misalnya kepala kakap.

Menu spesial RMP Bundo ini adalah gulai Cumi. Sedangkan untuk minuman, yang diunggulkan adalah “Teh Telor” (jika dilihat sekilas seperti minuman cappucino pada umumnya,red).
Tidak diragukan lagi rasa minuman teh telor RMP Bundo tersebut membuat para pecinta teh telor akan kembali datang hanya sekedar meneguk segelas minuman khas orang Minang ini.

Kekentalan teh yang sangat pas dilidah ini sudah menjadi trade mark RMP Bundo. Racikan minuman ini sudah menjadi khas karena ramuan kocokkan telor dan seduhan teh dilakukan oleh pakar minuman yang sudah lama merambah usaha minuman sewaktu masih berada di Padang kota.

Sedikit bocoran, dulunya usaha warung minuman yang menyediakan teh telor ini dirintis oleh Ajo Mali mulai pada tahu 198….. di salah satu pusat perdagangan di Kota Padang, Yakni Pasar Bawah Padang Teater. Sebut saja nama warung Ajo Mali, semua pedagang di wilayah tersebut pasti sudah mengenalnya. Dulunya warung Ajo Mali ini menyediakan berbagai minuman dan juga makanan. Dikarenakan pada tahun 198…… Pasar Padang Teater terbakar, warung ini juga terkena imbasnya, Ukuran warung yang hanya sekitar 2 X 5 M2 dilahap si jago merah. Untuk melajutkan usahanya terpaksa dengan membuka warung kaki lima, hingga pada tahun 1999 warung kaki lima ini terpaksa tutup akibat tuntutan ekonomi yang lebih besar, sehingga semua keluarganya hijrah ke Jakarta mencoba peruntungan nasib. Segala bidang usaha di coba hingga pada tahun 2007 istrinya Ajo Mali berinisiatif untuk buka usaha RMP yang di beri nama “RMP Bundo”. Disinilah minuman teh telor ini kembali di ngiangkan. Meskipun sebenar nya minuman ini masih tetap exist di jual pada awal mereka pindah ke Jakarta. Hanya penjualan minuman ini terbatas kepada para tetangga saja. Pada umumnya kaum Bapak2 di sekitar tempat tinggal mereka suka berkumpul2. hingga tercetus ide untuk menawarkan minuman khas ini kepada mereka.

Nah.. tunggu apa lagi..! bagi anda yang selalu ingin Lidahnya di Goyang oleh cita rasa masakan dan minuman khas Padang ini, silakan mampir ke Jl. Plumpang Semper No. 63 Jakarta utara. Phone 021-70975805.

 

Sejarah Rumah Makan Padang Bundo April 7, 2008

Filed under: Businnes — noviez @ 1:13 pm

Alhamdulillah….
Keinginan seorang Ibu yang berasal dari Nagari Minang yang tak lain adalah ibu ku sendiri akhirnya tercapai juga. Yakni punya usaha warung nasi Padang. Meskipun RMP ini tidak terlalu besar, tapi beliau sudah sangat bersyukur.

RMP ini mulai dibuka pada tanggal …..Oktober 2007 untuk umum. Sebelum itu kami mengadakan syukuran dulu dengan mengundang tokoh agama dan warga setempat untuk pembukaan, agar nantinya RMP ini menjadi barokah untuk semuanya, ammin.

Awalnya yang mengelola hanya ibu ku saja dan dibantu oleh papa, kakak dan adik perempuan ku. Untuk urusan masak memasak, ibuku lah yang bertanggung jawab. Untuk melayani pembeli sudah ada kakak dan adikku. Sementara aku hanya bisa membantu di hari libur kerja, setiap sabtu dan minggu. Begitupun juga dengan kakak dan adikku. Untungnya pada awal RMP ini di buka kakakku memang belum kembali mulai bekerja, seperti biasanya staff pada salah satu perusahaan. Dan adikku yang masih kuliah juga punya banyak waktu untuk bisa turut membantu di Rumah Makan Padang milik kami.

Karena ibuku juga mempunyai bidang usaha satu lagi, yakni konveksi pakaian, akhirnya kami memutuskan mencari tenaga tambahan setidaknya 2 orang. Sehingga ke dua bidang usaha yang sedang dirintis ibu ku bisa berjalan dengan baik. Satu orang dibagian dapur dengan tanggung jawab memasak dan satu orang lagi melayani pembeli. Kami merekrut tenaga tambahan yang juga masih mempunyai hubungan keluarga, setidaknya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk mereka.
Saat ini yang benar-benar standby di RMP kami hanya 2 orang pegawai tersebut. Ibuku hanya membantu memonitor rasa masakan dan membeli bahan baku yang diperlukan.

Menu yang kami sediakan adalah mulai dari rendang, ayam goreng/gulai/bakar, gulai cancang, gulai hijau ikan……., pangek ikan, ikan bakar, gulai cubadak, sambal lado hijau, dll.
Menu spesial RMP Bundo ini adalah gulai Cumi. Sedangkan untuk minuman, yang diunggulkan adalah “Teh Telor” (jika dilihat sekilas seperti minuman cappucino pada umumnya,red).

Harapan kami semoga RMP Bundo ini tetap bisa bertahan dan bisa memanjakan lidah para pecinta masakan Padang. Sesuai dengan motto kami “Cito Raso Nan Manggoyang Lidah”.
Akhir kata kami hanya bisa berpesan kepada anda :
Beritahukan kepada teman-teman anda, jika anda puas dengan masakan dan pelayanan kami, Tapi beritahu kami segera jika anda tidak merasa puas.

Alamat Rumah Makan Padang Bundo:
Jl. Plumpang Semper No. 63 Jakarta Utara
Phone : 021-70975805
Terima pesanan/catering (Dalam jumlah besar/kecil)

~~~~~~Selamat Menikmati ~~~~~~

 

Sayur Asem Ala Dian Maret 27, 2008

Filed under: My Hobbies — noviez @ 1:54 pm

Ehem…kenapa aku bikin judulnya sayur asem ala dian?? Karena pertama kali aku bisa masak sayur asem diajari oleh Dian, seorang sobat yang satu indekost dengan ku di “Lele8”, dan sama-sama hobby masak. Kalo jadwal kuliah ga terlalu padat aku pasti sempatin untuk masak, selain murah, meriah, dan terjamin kebersihannya, lagian untuk membeli bahan-bahannya sangat mudah. Hanya beberapa puluh meter dibelakang kosan ku terdapat pasar tradisional namanya Pasar Ancol. Sesekali aku minta bantuan sama bibi. Seorang ibu yang sudah tua yang selalu menjaga dan membersihkan kos-kosan tempat aku tinggal.
Boleh ya aku bercerita tentang bibi….
Beliau sudah lama janda dan mempunyai beberapa orang anak yang sudah bekeluarga. Karena mereka semua hidup dalam serba keterbatasan, akhirnya bibi terpaksa mencari uang sendiri sekedar untuk makannya atau sesekali membelikan jajanan cucunya.
Aku prihatin melihat kondisinya yang sudah tua harus membesihkan 2 rumah kos-kosan milik majikannya. Satu rumah aja ada 2 lantai, kurang lebih ada 20 kamar dan 5 kamar mandi, beserta dapur. Setiap hari kerjaannya membersihkan 2 rumah kos-kosan tersebut.
Untuk mencari uang tambahan, bibi selalu menawarkan jasanya untuk mencuci dan menyetrika pakaian kami. Kalo aku sendiri jarang menggunakan jasa bibi. Selain aku harus mandiri dan berhemat, sebenarnya aku juga ga tega meliat bibi nyuci, kasihan dia sudah terlalu tua untuk harus kerja seberat itu. Yang lebih memprihatinkan aku sering perhatikan bibi, setiap pagi keranjang sampah yang mangkal di samping-samping pintu kamar kami selalu di periksa bibi, kali-kali aja ada sisa makanan atau apapun itu yang masih bisa dimanfaatkannya.
Karena aku kuatir melihat kebiasaan bibi mengumpulkan sisa makanan yang ada di keranjang sampah, akhirnya aku ngomong ke bibi. Aku jelasin kepada dia bahwa setiap makanan yang sudah dibuang ke tempat sampah berarti makanan itu sudah tidak layak lagi di konsumsi, sudah kadaluarsa. Nanti bisa bikin perut bibi sakit, ujar ku.
Untungnya bibi ngerti maksudku.
Semenjak kejadian itu setiap aku punya makanan lebih atau buah, aku selalu berbagi dengan bibi, bahkan mayoritas anak kosan melakukan hal yang sama.
Nah kalo aku masak banyak dan bahkan kami masak dengan cara iuran ramean, aku dan teman2 kosan selalu mengajak bibi untuk makan bersama.
Alhamdulillah……..sungguh nikmatnya kebersamaan yang kami lalui. Hingga sampai dengan saat aku membuat tulisan ini saja, aku masih merindukan suasana seperti itu lagi tentunya juga dengan bibi yang kami sayangi meskipun beliau kadang cerewet dan marah kalo kami suka bikin berantak kosan……hehehe….maklum aja ya bi… !

Sayur Asem Ala Dian

Bawang merah dan putih di rendos ada yang pake terasi dan cabe. Kalo udah halus masukkan kedalam air yang mendidih yang sudah dikasi lengkuas ma daun salam, jangan lupa asemnya ya…..baru deh masukkin bahan2 nya. Kasi garam dan micin kalo udah matang, pindahin ke mangkok. Jadi deh……sayur asem nya….hmm…

 

Ayam Rica-rica Maret 27, 2008

Filed under: My Hobbies — noviez @ 1:47 pm

Rasanya saat ini aku pingin sekali makan ayam rica-rica buatan sobat ku Jansy Magdalena Naray yang biasa aku sebut dengan panggilan Yha.
Sobat yang kukenal mulai dari awal ospek kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Kebanyakan teman-temanku adalah orang perantauan. Salah satunya si yha ini. Dia berasal dari Manado.
Tapi ga mungkin banget aku dari Jakarta bela-belain ke Manado sekedar mencicipi ayam rica buatannya.
Aha…kenapa aku ga coba masak sendiri, tinggal nanya yha aja bumbunya dan cara masaknya, pasti beres….!!
Akhirnya aku coba mempraktekkan sendiri resep yang sudah dikasi yha.
Meski rasanya tidak persis sama dengan buatan yha, yang jelas aku sudah bisa makan ayam rica lagi.
Buat yang mau coba masak ayan rica-rica ala Yha, aku bakal bagi-bagi resep.

Ayam Rica-Rica

Bahan :
1 kg ayam
4 buah tomat
garam
penyedap
minyak goreng
daun kemangi secukupnya

Bumbu :
10 daun bawang
5 btg sereh
1 ruas jahe
20 siung bawang merah
5 siung bawang putih
1 ruas kunyit
5 butir kemiri
cabe rawit sesuai selera
daun pandan dan daun jeruk

Cara Masak :
Haluskan semua bumbu, kecuali daun bawang diiris tipis. Kemudian tumis bumbu yang sudah dihaluskan tersebut bersamaan dengan daun bawang. Setelah bumbu ditumis sampai mengeluarkan aroma wangi, masukkan ayam, diaduk dan diungkep.
Setelah ayamnya matang dan empuk masukkan irisan tomat dan kemangi, beri garam dan penyedap secukupnya. Aduk hingga matang dan sajikan. Selamat Mencoba.

 

Brownies ku….. Maret 27, 2008

Filed under: My Hobbies — noviez @ 1:44 pm

Brownies ku……

Hmm….rasanya saat ini aku punya waktu lebih untuk melakukan semua kegiatan yang aku suka. Salah satunya masak memasak. Mulai dari bikin sambel terasi, tumis kangkung, nasi goreng, omlet mie, sampe bikin macam2 makanan ringan.

Hari ini aku mau berbagi cerita mengenai kue brownies kukus buatan ku. Yup…brownies kukus ku yang bikin heboh. Tapi dari hal ini aku jadi bisa belajar, bahwa kita harus teliti dalam menggunakan bahan baku, cek apakah bahan baku yang digunakan masik layak dikonsumsi atau sudah kadaluarsa.

Ide untuk bikin brownies sudah lama aku rencanakan. Kalo tidak salah dari akhir tahun 2006. Saking semangatnya sepulang dari kantor aku singgah ke carrefour untuk membeli semua bahan baku yang dibutuhkan. Tapi semangat itu langsung pudar karena aku merasa capek, apalagi esok pagi aku harus menjalani rutinitasku seperti biasanya dikantor. Akhirnya semua bahan baku itu tetap kusimpan rapih di dalam kulkas.

Hingga akhir februari 2008 aku kembali ingin mencoba membuat brownies, kebetulan coklat bubuk dan dark cooking chocolate nya masih kusimpan dalam kulkas. Aku merencanakan akan membuat kue brownies tanggal 3 maret aja, karena bertepatan dengan tanggal lahir kakakku.

Sewaktu aku lagi menyiapkan adonan sepupu ku ingin mencicipi rasanya coklat dark cooking, hingga dia memakannya sampai satu batang coklat.

Brownies buatan ku sudah matang, setidaknya sesuai dengan waktu yang disarankan oleh buku resep kue yang ku baca. Sambil menunggu kue tersebut dingin, aku bikin makanan lagi. saat itu aku bikin pisang goreng, cocok banget dengan cuaca yang sering hujan, jadi enaknya makan gorengan yang anget2.

Tiba2 sepupuku tadi merasa mual2, katanya terakhir dia makan coklat. Aku langsung teringat bahwa aku beli coklat tersebut tahun 2006 dan sekarang sudah tahun 2008. aku lupa baca expired nya. Ternyata masa expirednya sudah habis…… mati aku!
Aku langsung saranin sepupuku untuk minum susu tujuannya menetralisir racun dilambungnya. Tapi brownies buatan ku tadi merasa sayang untuk aku buang. Bodohnya lagi aku melakukan uji coba terhadap diriku sendiri. Untuk mengetes apakah brownies yang aku bikin membuat aku juga akan mual dan muntah seperti sepupu ku. Aku memakan kue tersebut 2 potong, rasanya enak sekali meskipun sedikit bantat dan bagian tengahnya lunak karena belum terlalu matang. Beruntungnya aku tidak merasakan hal yang sama dengan sepupuku tersebut.

Melihat sepupuku yang tiap beberapa jam muntah aku jadi kuatir, akhirnya brownies itu lebih baik dibuang daripada terlanjur dimakan oleh semua keluarga dan bisa berakibat fatal. Esoknya sepupu ku dibawa kerumah sakit. Alhamdulillah tidak terjadi apa2, efeknya hanya mual dan muntah saja, itu karena dia ternyata seharian belum makan apa2 selain coklat tersebut.

Yah….mungkin lain waktu aku akan kembali bikin brownies kukus, tentunya dengan bahan baku yang masih bagus. Ini jadi pelajaran berharga buat aku untuk lebih teliti dalam masalah makanan.
Nich…aku mau berbagi resep brownies buatan ku.

Chocolate Brownies

Bahan I :
6 kuning telur
5 putih telur
160 gram gula pasir
7 gram cake emulsifier (misal Tbm, Sp, Ovalet)
¼ sdt garam
¼ sdt vanili bubuk

Bahan II (campur dan ayak) :
110 gram tepung terigu protein sedang
20 gram cokelat bubuk
½ sdt baking powder

Bahan III (cairkan) :
75 gram mentega
75 gram margarin
125 gram dark cooking chocolate

Bahan IV :
40 gram kismis
40 gram cokelat chip

Cara Membuat :
1. Campur dan kocok bahan I menjadi satu hingga mengembang dan kental.
2. Masukkan bahan II sedikit demi sedikit hingga rata. Tuangkan bahan III, aduk perlahan dengan spatula hingga tercampur rata.
3. Tuang ke dalam 2 loyang ukuran 30 x 10 x T4 cm yang telah diolesi dengan sedikit minyak dan dialasi dengan kertas roti. Taburi dengan bahan IV.
4. Kukus kedalam panci pengukus dengan api sedang selama 25 menut hingga matang.
5. Angkat dan dinginkan. Semprotkan dengan white cooking chocolate cair atau poles dengan butter cream dan taburi dengan cokelat serut atau sesuai selera.

— Selamat Mencoba —

 

Lantunan Hati Februari 14, 2008

Filed under: Inspirasi — noviez @ 9:07 am

Kasih sayang meliputi seluruh hari yang kita miliki
Masa Lalu adalah kasih sayang yang pernah kita wujudkan
Saat ini adalah kasih sayang yang bisa kita lakukan …

Dan Masa Depan adalah kasih sayang yang baru kita impikan

Kasih sayang tidak harus menunggu waktu
Kasih sayang bukan kereta yang menanti jadwal
Kasih sayang selalu ada di setiap kesempatan
Kasih sayang adalah sesuatu yang bisa kita berikan

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.